Film Indonesia, Setelah Dilan 1990


Kehadiran film Dilan 1990 di layar lebar Tanah Air membawa harapan untuk insan perfilman Indonesia. Setelah satu bulan tayang di bioskop, film Dilan menjebol angka enam juta penonton. Prestasi yang sebelumnya hanya dipunyai oleh film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.

Keberhasilan film Dilan dilatari pelbagai faktor. Mulai dari jalan kisah yang sederhana, tetapi menghibur. Faktor pemilihan bintang utama yang menyegarkan. Iqbaal Ramadhan sebagai Dilan dan Vanesha Prescilla sebagai Milea ialah dua nama yang belum terlalu tidak jarang tampil di layar lebar, menciptakan penonton mudah menanam mereka sebagai pasangan di atas layar sebab sebelumnya tidak mengasosiasikan dua-duanya dengan karakter beda di film sebelumnya.

Hingga hal latar belakang film yang terjadi di era 1990. Atau era remajanya kumpulan yang sekarang sudah mapan sampai-sampai dengan mudah dapat menonton bioskop. Bahkan sampai berkali-kali.

Tidak mudah untuk film beda untuk mengikuti kesuksesan Warkop DKI Reborn atau Dilan 1990. Laskar Pelangi yang tayang di 2008 disaksikan oleh 4,7 juta orang. Disusul Habibie & Ainun di angka pemirsa 4,5 juta dan Pengabdi Setan yang tayang tahun kemudian dengan 4,2 juta penonton.

Pada tahun 2018 sudah tidak sedikit film Indonesia yang disiapkan. Rasanya nyaris tiap pekan pula terdapat judul baru film Indonesia yang muncul di bioskop.

Menggarap film Indonesia, namun tidak seindah bayang-bayang akan pemirsa yang menjangkau jutaan itu. Produser Rosa Rai Djalal saat berangjangsana ke Republika.co.id mengatakan, pembuat film masih me sti butuh mempunyai jaringan dan hubungan yang baik dengan pihak bioskop demi menemukan layar. Alasannya sederhana, empunya bioskop masih lebih suka memasang film Hollywood dikomparasikan film Indonesia.

Artinya, walau film Indonesia dapat memenuhi semua layar bioskop tetapi pemilik bioskop tidak mau mengerjakan itu. “Paling kan film Indonesia bisa dua studio dari enam, misalnya,” kata Rosa.

Rosa yang sedang memproduseri film Guru Ngaji itu bercita-cita ada perlindungan dari pemerintah terhadap film Indonesia. “Pembatasan film asing urgen ya. Di Cina terdapat proteksi terhadap industri film lokal, jadi film asing malah dibatasi,” kata Rosa lagi.

Industri film Indonesia di tahun 2018 memang diprediksi dapat menjadi bisnis yang menggiurkan. Berdasarkan keterangan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia terjadi peningkatan menyeluruh jumlah pemirsa film Indonesia di tahun 2017. Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menuliskan pada tahun 2015 jumlah pemirsa film Indonesia sejumlah 16 juta. Di 2017, angkanya melonjak jadi 42,7 juta penonton.

Faktor yang mendasari pencapaian itu tidak lepas dari pencapai sebanyak film Indonesia yang menjangkau angka jutaan penonton. Berdasarkan keterangan dari Triawan, film Indonesia yang menjangkau ratusan ribu pemirsa saja juga tidak sedikit jumlahnya.

Ia mempercayai di tahun 2018 ini jumlah pemirsa film Indonesia bakal lebih baik lagi. Apalagi, dia mendengar kabar terdapat 120 film Indonesia yang bakal tayang di bioskop se-Indonesia.

Badan Ekonomi Kreatif menyatakan, potensi industri film di Tanah Air paling besar untuk menambah ekonomi kreatif. Sayangnya, film lokal masih kelemahan layar, sampai-sampai film tidak dapat diputar secara maksimal.

“Film Dilan misalnya, bila semua layar atau studio di bioskop tayangkan tersebut dan tidak berlomba dengan film luar negeri, barangkali penontonnya telah sampai 10 juta. Presiden saja nonton Dilan,” ujar Triawan.

Mengatasi kelemahan layar Triawan membuka keran investasi asing untuk membina lebih tidak sedikit bioskop. Saat ini Indonesia baru mempunyai 1.500 layar.

Coba bandingkan jumlah layar bioskop dengan Malaysia yang sudah menjangkau 1.000 layar. Namun ingat Malaysia melulu mempunyai 32 juta penduduk. Sedang Indonesia mempunyai 250 juta jiwa sebagai penduduknya.

Pembuat film Mira Lesmana mengatakan, film Indonesia sekarang sudah lebih beragam. Berbagai genre diciptakan produser tanpa mengikuti film apa yang sedang laris.

Satu yang masih kurang ialah beragamnya film guna anak-anak. Mira yang akan mengawali syuting film anak-anak Kulari ke Pantai tersebut mengatakan dalam lima tahun terakhir ada selama 500 film Indonesia yang diproduksi. Tapi, jumlah film anak-anak tidak lebih dari 15 judul. Bahkan melulu satu film anak-anak yang masuk 10 besar perolehan pemirsa film, yakni Laskar Pelangi.

Usai menyaksikan film Dilan di bioskop, Presiden Joko Widodo mengucapkan keinginannya menyaksikan industri kreatif Indonesia lebih berkembang. Kreativitas, katanya, bisa timbul dari suatu kesederhanaan.

Film Dilan 1990, Presiden mencontohkan, ialah contoh suatu kesederhanaan yang direkam dengan sudut pandang kamera yang tepat. “Sederhana namun pas, gitu, tidak berlebihan. Tapi malah pasnya tersebut yang mengakibatkan masyarakat menjadi semuanya hendak nonton dan saya me sti ucapkan ini,” kata Presiden.

Pekerjaan lokasi tinggal untuk membangunkan industri film Indonesia yang berbobot | berbobot | berkualitas pun masih paling banyak. Sebagai penonton, barangkali kita dapat membantu pemerintah, pembuat film, sampai dunia seni film Indonesia dengan teknik sederhana. Yaitu mulai dari menyaksikan lebih tidak sedikit film Indonesia.

Leave a Reply